Pages

welcome to my site

User Login

On 1 komentar

senjata api yang kita kenal sekarang sangat berbeda jauh dengan senjata api pada zaman dahulu. Senjata api zaman dahulu sangat susah untuk digunakan, seperti Arquebus dan musket, yang harus di-reload setiap kali menembak dan akurasinya yang sangat kecil, tidak seperti sekarang, senjata bisa menembak banyak peluru sekaligus dalam sekali tembak, dan juga akurasinya yang sangat tepat. Tahukah anda kapan dan darimana cikal bakal senjata api? Berikut adalah cerita perjalanan senjata api dari awal sampai akhir.

1.Masa-Masa Awal (Abad ke-9 sampai abad ke-14)


Senjata api berawal dari ditemukannya bubuk mesiu di Cina pada abad ke-9. Mereka menggunakan senjata dengan bubuk mesiu untuk melawan tentara Mongol yang menyerang Cina di utara. Setelah bangsa Mongol menguasai Cina dan membangun Dinasti Yuan, mereka menggunakan teknologi bubuk mesiu Cina untuk keperluan invasi mereka ke Jepang. Sejarah mengatakan, Hassan Al-Rahmah menggunakan meriam yang disebutnya sebagai meriam pertama dalam sejarah, yang komposisinya sangat identik dengan komposisi ideal untuk meriam pada Pertempuran Ain Jalut melawan bangsa Mongol pada tahun 1260. Tetapi, Khan mengatakan bahwa bangsa Mongollah yang mengenalkan senjata api ke dunia Islam.
Bubuk mesiu sendiri adalah benda yang dibuat dari campuran sulfur, batubara, dan potassium nitrat. Untuk membuat bubuk mesiu, bisa tanpa salah satu dari ketiga bahan tersebut, tetapi kekuatannya tidak terlalu besar.
2.Masa-Masa Perkembangan (abad ke-15 sampai abad ke-18)
Senjata api sudah berkembang sampai ke pelosok dunia seperti Jepang, Korea, Timur Tengah, sampai Eropa. Di Eropa, senjata api berkembang pesat. Seperti senjata arquebus (senapan kopak), musket (senapan lontak), falconet (meriam ringan), shotgun, dan masih banyak lagi. Tetapi senjata-senjata di masa ini masih memiliki banyak kekurangan seperti cara penggunaannya yang sulit, dan juga akurasinya yang buruk. Salah satu contoh adalah arquebus, akurasinya buruk, harus di-reload setelah menembak, dan banyak asap yang dihasilkan setelah penembakan.
Contoh penggunaan arquebus dan musket adalah pada pertempuran Nagashino di Jepang pada tahun 1575, yakni tentara Oda melawan tentara Takeda. 3000 riflemen tentara Oda menghancurkan kavaleri Takeda yang terkenal sebagai kavaleri terkuat pada masa itu (Sengoku atau negara bertikai). Contoh lain adalah penggunaan musket oleh tentara dinasti Ottoman di Turki dan orang-orang Eropa seperti Tentara Hitam Hungaria pada masa raja Matthias Cornivus (1458-1490) yang menggunakan formasi setiap tentara ke-4 menggunakan arquebus sebagai senjata mereka.
3. Masa-Masa modern (abad 19-sekarang)



Pada masa modern ini perkembangan senjata api sangat pesat, karena didukung oleh perlombaan bersenjata antar negara pada awal sampai pertengahan abad 20, yakni sekitar perang dunia 1 sampai perang dunia 2. Perjalanan senjata memasuki masa modern ketika ditemukannya rifle yang menggantikan peran musket. Rifle adalah senjata yang dirancang untuk digunakan oleh bahu, dan menggunakan peluru (bullet) untuk amunisinya. Bullet adalah amunisi yang berputar pada porosnya, berjarak jauh, dan berujung tajam. Karena kemampuannya untuk berputar, peluru berfungsi seperti bor yang memiliki daya hancur yang besar. Setelah ditemukan, rifle terus berkembang. Awalnya roifle sama seperti musket dan arquebus, hanya bisa menembak satu peluru dalam sekali menarik pelatuk, tetapi rifle terus berkembang dan muncullah assault rifle, yakni senapan yang bisa menembak beberapa peluru sekaligus dalam sekali menarik pelatuk, cara me-reload pun sudah sangat mudah, yakni tinggal


memasang box peluru pada senjata, tidak seperti musket yang harus memasukkan peluru setiap penembakan. Selain itu, beberapa rifle juga dipasang scope (teropong) atau biasa disebut sniper rifle. Sniper rifle adalah rifle yang bisa menembak dengan jarak sangat jauh, selain itu juga daya hancurnya sangat besar, tetapi tidak bisa ditembak secara beruntun seperti assault rifle, harus dibuang selongsong pelurunya secara manual, meskipun sudah ada beberapa sniper yang otomatis, tetapi mengenai akurasi masih lebih bagus sniper yang manual. Selain itu ada gatling gun, senapan mesin yang mempunyai lebih dari satu laras dan bisa berputar untuk mempercepat tembakan. Tak hanya senjata yang berkembang, perangkat tambahannya pun juga berkembang, seperti silencer (peredam suara), yang berfungsi untuk meredam suara senapan yang keras agar tidak ketahuan oleh musuh.
Tidak hanya senjata api yang terus berkembang dari masa-kemasa peluru dan berbagai mesiu pun diciptakan agar senjata api bisa digunakan dengan cara yang lebih praktis dan lebih mematikan.
PERKEMBANGAN PELURU
Dibandingkan dengan perkembangan teknologi senjata api yang lebih maju, pada kurun waktu antara tahun 1500 sampai 1800, teknologi peluru berkembang dengan sangat lambat. Peluru masih berbentuk bulat sederhana (bola) dan terbuat dari timah, dan hanya berbeda dalam diameternya saja.
Peluru pada awalnya merupakan bola timah yang berukuran lebih kecil dari lubang laras senapan. Peluru kemudian dibungkus dalam kertas tambalan sehingga peluru tetap berada di depan bubuk mesiu. Karena jika peluru tidak berada di depan bubuk mesiu maka akan berisiko menyebabkan laras senapan meledak. Peluru tidak dibuat lebih pas dengan lubang laras senapan karena menyebabkan peluru lebih sulit untuk diisikan, terutama setelah lubang laras dipakai untuk menembak sebelumnya. Dan karena alasan ini, senapan awalnya tidak digunakan untuk tujuan militer.
Peluru "kerucut" pertama dirancang oleh Kapten John Norton dari Angkatan Darat Inggris pada tahun 1823. Peluru Norton memiliki cekungan pada dasarnya sehingga ketika ditembakkan dasar peluru akan menjadi lebih luas karena pengaruh tekanan agar peluru lebih stabil ketika melesat di dalam laras senjata. Dewan Ordnance Inggris menolak rancangan peluru tersebut karena mereka lebih percaya dengan peluru berbentuk bola yang telah digunakan selama 300 tahun.
Seorang pembuat senjata api berkebangsaan Inggris yang bernama William Greener menemukan peluru Greener pada tahun 1836. Peluru buatannya sangat mirip dengan peluru buatan Norton kecuali bahwa cekungan pada dasar pelurunya dilengkapi dengan sebuah sumbat kayu sehingga dapat memaksa dasar peluru untuk melebar dan peluru pun dapat meluncur dengan baik di dalam laras senjata dan ditembakkan dengan lebih akurat. Pengujian membuktikan bahwa peluru Greener sangat efektif tetapi peluru rancangannya juga ditolak untuk penggunaan militer karena dinilai terlalu rumit untuk dibuat.
Bola timah lunak yang disebut "Minié Ball" diperkenalkan pertama kali pada tahun 1847 oleh Claude Étienne Minié, Seorang kapten di Angkatan Darat Perancis. Minié Ball buatannya ini sangat mirip dengan peluru Greener. Peluru tersebut berbentuk kerucut dengan cekungan di bagian dasarnya, dan dilengkapi dengan sumbat besi kecil. Ketika ditembakkan, sumbat besi akan mendorong rongga cekungan di bagian dasar peluru, sehingga memperbesar sisi peluru yang menyebabkan peluru meluncur dengan baik di dalam laras senjata.
Pada tahun 1855, Inggris menggunakan Minié Ball untuk senapan Enfield mereka. Minié Ball pertama kali digunakan secara luas dalam Perang Saudara di Amerika Serikat. Sekitar 90% dari korban medan pertempuran dalam perang ini disebabkan oleh Minié Ball yang ditembakkan dari senapan.
Antara tahun 1854 dan 1857, Sir Joseph Whitworth melakukan serangkaian percobaan panjang dengan menggunakan senapan dan menemukan bahwa sebuah peluru akan lebih efektif jika dibuat dalam bentuk yang lebih kecil dan memanjang. Peluru Whitworth dibuat agar sesuai dengan alur dari senapan mekanis. Senapan Whitworth tidak pernah diadopsi oleh pemerintah, meskipun digunakan secara luas untuk tujuan perlombaan menembak antara tahun 1857 dan 1866.
Sekitar tahun 1862, W.E. Metford melakukan serangkaian percobaan lengkap pada peluru dan senapan, dan menemukan sistem penting senapan ringan dengan ditambahkan spiral pada laras senapannya, dan peluru yang lebih keras. Senapan dan peluru buatannya ini akhirnya diadopsi untuk dipakai oleh tentara Inggris.
Perubahan penting berikutnya dalam sejarah peluru terjadi pada tahun 1882, ketika Mayor Eduard Rubin, direktur di Laboratorium Swiss Army di Thun, menemukan peluru terselubung tembaga. Permukaan timah pada peluru yang ditembakkan dapat meleleh karena suhu panas dan gesekan dengan laras senapan. Karena tembaga memiliki titik lebur yang lebih tinggi, dan lebih keras, peluru terselubung tembaga dapat ditembakkan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Kemajuan Eropa dalam ilmu aerodinamika mengilhami pembuatan peluru Spitzer. Pada awal abad ke-20, sebagian besar tentara dunia mulai berpindah memakai peluru Spitzer. Peluru ini dapat ditembakkan untuk jarak yang lebih jauh, lebih akurat dan lebih bertenaga.
Kemajuan terakhir dalam bentuk peluru adalah "ekor perahu", basis efisien untuk peluru Spitzer. Desain ekor perahu akan mengurangi gesekan dengan udara dengan cara mengalirkan udara sepanjang permukaan peluru. Kombinasi pertama peluru Spitzer dengan peluru perahu-ekor dilakukan oleh seorang letnan kolonel Desaleux yang bernama Balle "D". Peluru ini diperkenalkan sebagai amunisi militer standar pada tahun 1901, untuk senapan Lebel Perancis 1886.
PERKEMBANGAN MESIU
“bubuk mesiu” yang pada masa peperangan jaman dahulu digunakan sebagai salah satu bahan peledak untuk menghasilkan suatu ledakan yang dahsyat yang dapat menghancurkan benda padat waktu itu. Awal mula ide pembuatan “bubuk mesiu” ini ternyata berasal dari Tiongkok kuno yang bertujuan untuk hiburan semata dan bukan untuk kepentingan militer.
Para leluhur Tiongkok kuno menganggap “bubuk mesiu tersebut sangatlah unik, karena efek yang dihasilkannya dalam bentuk visual tersebut. Sehingga setiap Festival Musim Semi, rakyat Cina senang sekali menyalakan kembang api dan juga petasan dan sering disebut pula sebagai “roket langit” yang telah dikembangkan dari petasan, yang terdiri dari tiga bagian utama: sumbu, roket penggerak, dan juga bubuk mesiu.
“Bubuk Mesiu” ini merupakan salah satu penemuan terbesar dari ke empat penemuan besar oleh Tiongkok kuno pada waktu itu dan merupakan peledak pertama yang digunakan oleh manusia. Pada awal mulanya, Kaisar Wu (157-87 SM) dari dinasti Han memerintahkan para ahli kimianya untuk melakukan penelitian dalam menemukan rahasia hidup abadi bagi sang Kaisar. Bahan yang digunakan sebagai bahan pengujian oleh para ahli kimia tersebut adalah belerang dan potassium nitrat, dengan cara memanaskan substansi-substansi tersebut.
Seorang ahli kimia yang ternama mencampurkan 75 persen potassium nitrat dengan 15 persen arang dan 10 persen belerang. Akan tetapi, campuran dari substansi tersebut tidak menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan obat rahasia “hidup abadi” justru campuran tersebut menghasilkan ledakan dan menghasilkan cahaya ketika berdekatan dengan api. Penemuan tersebut justru memberikan suatu inspirasi bagi para ahli kimia dari Tiongkok kuno tersebut, mereka takjub akan percikan api yang dihasilkan oleh perpaduan dari belerang nitrat dan substansi lainnya sehingga mereka menemukan sebuah formula “bubuk mesiu”.
Para leluhur kemudian memanfaatkan penemuan tersebut untuk menghibur rakyat-rakyat Tionghoa karena mereka terkesima akan efek visual yang dihasilkan oleh percikan-percikan api dari perpaduan bahan tersebut. Disebutkan pada masa Tiga Negara, seorang pandai besi yang bernama, Ma Jun membuat “kembang api” untuk memberikan hiburan dengan cara membungkus “bubuk mesiu” tersebut dalam kertas dan membakarnya. Namun, formula pembuatan “bubuk mesiu” tersebut diketahui oleh para ahli perang dan kemudian dikembangkan menjadi bubuk hitam yang digunakan untuk perang.
Dalam beberapa catatan sejarah yang ada selama bertahun-tahun menyebutkan bahwa warga Tionghoa hanya memanfaatkan penemuan tersebut sebagai petasan dan kembang api saja. Namun ternyata hal tersebut tidaklah benar, karena terdapat catatan sejarah lainnya yang menyebutkan bahwa terdapat sebuah peperangan yang melawan pengepungan dengan menggunakan “api terbang” pada masa akhir Dinasti Tang (sekitar 850 M). Para prajurit memanfaatkan lontaran batu yang telah dibubuhkan beberapa paket “bubuk mesiu” yang dinyalakan untuk membakar musuh yang mengepung mereka.
Penemuan ini kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Dinasti Song (904 M) dengan mendirikan bengkel bubuk mesiu, yang memproduksi senjata berbahaya atau mudah meledak seperti “mortar”, “roket”, dan “misil” dalam periode yang berbeda-beda untuk melawan Bangsa Mongolia yang menjadi musuh utama mereka. Alat-alat perang tersebut membuat musuh ketakutan, mereka menganggap senjata yang berasal dari “bubuk mesiu” yang digunakan tersebut tampak seperti ilmu sihir yang menakutkan.
Lambat laun, ilmu pengetahuan tentang bahan yang menakjubkan tersebut diketahui oleh orang-orang asing. Pada tahun 1076, pemerintah Song sempat melarang penjualan potassium nitrat (bahan utama pembuatan “bubuk mesiu”) tersebut kepada orang asing, akan tetapi hal itu sudah terlambat dan telah tersebar melalui Jalan Sutera (rute atau jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan Negara-negara Asia Selatan) sampai ke India, Timur Tengah, bahkan Negara-negara di Eropa. Kemudian pada abad ke-12 dan ke-13, “bubuk mesiu” diperkenalkan ke Negara-negara Arab sebelum akhirnya diperkenalkan ke Yunani dan Negara Eropa lainnya dan menandai juga berakhirnya “era senjata dingin” dan memulai bab baru dalam sejarah perang yang menyebabkan dampak yang lebih besar bagi perkembangan sejarah manusia.
“Bubuk mesiu” menjadi primadona kelas atas pada masa peperangan waktu itu. Pada abad ke-16 masa pemerintahan Dinasti Ming, beberapa sebutan alat perang yang menggunakan “bubuk mesiu” tersebut terus dikembangkan tanpa henti.

1 komentar:

Poskan Komentar